teori tawar-menawar gaji
siapa yang harus menyebutkan angka duluan di sesi hrd
Pernahkah kita duduk di sebuah ruangan ber-AC yang dingin, tapi telapak tangan kita basah oleh keringat? Di seberang meja, seorang rekruter tersenyum ramah dan melempar pertanyaan pamungkas: "Berapa ekspektasi gaji yang Anda harapkan?" Dalam sepersekian detik, otak kita masuk ke mode bertahan hidup atau fight or flight. Kita bingung. Kalau menyebut angka terlalu tinggi, kita takut dianggap tidak tahu diri lalu lamaran ditolak. Tapi kalau terlalu rendah, kita akan merutuki diri sendiri setiap kali tanggal gajian tiba. Ini adalah momen standoff ala koboi di film Western, di mana kita dan pihak HRD saling menunggu siapa yang akan menarik pelatuk duluan. Selama bertahun-tahun, banyak dari kita dicekoki satu aturan emas dalam tawar-menawar: jangan pernah menyebutkan angka duluan. Siapa yang bicara duluan, dia yang kalah. Tapi, apakah aturan usang ini benar-benar didukung oleh sains, atau hanya mitos belaka? Mari kita bedah bersama-sama.
Ketakutan kita untuk menyebut angka duluan sebenarnya sangat beralasan. Secara historis, dalam ilmu ekonomi klasik, ada konsep yang namanya information asymmetry atau asimetri informasi. Sederhananya, satu pihak punya informasi yang lebih banyak daripada pihak lain. Perusahaan tahu persis berapa anggaran maksimal mereka, sementara kita hanya bisa menebak-nebak dalam gelap. Itulah sebabnya, saran dari generasi ke generasi selalu menyuruh kita menahan diri. Logikanya begini: kalau kita diam dan membiarkan HRD yang menyebut angka, kita mungkin akan terkejut karena angkanya jauh di atas ekspektasi kita. Sangat masuk akal, bukan? Saya dulu juga sangat percaya pada taktik ini. Kita diajarkan untuk merendah, memutar kata dengan kalimat diplomatis seperti, "Saya fleksibel, mengikuti standar perusahaan." Namun, ketika kita terus-terusan bermain aman seperti ini, kita sebenarnya sedang menyerahkan kendali nasib kita sepenuhnya ke tangan orang lain. Dan tahukah teman-teman? Para ahli saraf dan psikolog perilaku ternyata menemukan celah besar dari strategi pasif ini.
Mari kita masuk ke laboratorium psikologi sejenak. Jika kita melihat bagaimana otak manusia merespons angka, strategi "menunggu bola" tadi justru bisa menjadi bumerang yang mematikan. Bayangkan kita sedang membeli barang antik di pasar loak. Kalau penjualnya diam saja dan meminta kita mengajukan harga duluan, kita pasti akan menyebut angka serendah mungkin, kan? Hal yang sama persis berlaku di meja wawancara. Jika kita membiarkan HRD melempar angka pertama, mereka secara tidak sadar—atau bahkan secara taktis—akan membuka penawaran di batas bawah anggaran mereka. Setelah angka itu keluar dari mulut mereka, entah kenapa, sangat sulit bagi kita untuk menariknya naik secara drastis. Ruang gerak kita tiba-tiba menyempit. Percakapan jadi terasa sangat berat. Mengapa ini bisa terjadi? Apa misteri di balik angka pertama yang terucap di sebuah ruangan, yang seolah-olah memiliki gravitasi tak kasat mata dan menarik semua argumen ke arahnya?
Jawabannya terletak pada sebuah fenomena kognitif pemenang Nobel yang disebut efek penahan atau anchoring effect. Konsep ini dipopulerkan oleh dua raksasa psikologi, Amos Tversky dan Daniel Kahneman. Otak kita, betapapun cerdasnya, ternyata sangat malas dan sangat bergantung pada informasi pertama yang diterimanya saat membuat keputusan. Informasi pertama ini menjadi anchor atau jangkar. Ketika kita memberanikan diri menyebutkan angka gaji duluan—katakanlah angka yang cukup tinggi namun tetap masuk akal—kita baru saja menancapkan jangkar yang kuat di meja negosiasi. Riset membuktikan bahwa penawaran akhir hampir selalu berakhir lebih dekat dengan angka jangkar pertama tersebut. Jadi, jika kita menyebut angka 15 juta duluan, alam bawah sadar pihak HRD akan dipaksa menggunakan angka 15 juta itu sebagai titik awal evaluasi. Sekalipun mereka menawar turun, angka akhirnya secara statistik akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika mereka yang melempar angka 8 juta sebagai jangkar pertama. Dengan menyebutkan angka duluan, kita tidak sedang bunuh diri. Sebaliknya, kita sedang mengendalikan medan psikologis percakapan tersebut.
Mengetahui fakta ilmiah ini tentu mengubah cara pandang kita saat wawancara kerja, bukan? Tentu saja, taktik melempar jangkar ini menuntut satu syarat mutlak: kita harus melakukan riset yang matang. Kita wajib tahu harga pasar untuk keahlian yang kita tawarkan. Jangan asal melempar angka dari langit tanpa dasar, karena itu justru akan merusak kredibilitas kita. Negosiasi gaji bukanlah pertarungan berdarah antara kita dan HRD. Ini hanyalah sebuah tarian psikologis antara dua manusia yang sama-sama ingin mencari titik temu. Di wawancara berikutnya, saat pertanyaan mendebarkan itu muncul, ingatlah bahwa kita punya kekuatan kognitif untuk mengatur arah percakapan. Tarik napas panjang, tersenyum dengan percaya diri, dan jadilah pihak yang menancapkan jangkar pertama. Pada akhirnya, kita sendirilah yang paling mengerti berapa nilai dari pengalaman, keringat, dan waktu kita. Mari kita berhenti membiarkan orang lain mendikte nilai tersebut.